Keberlanjutan Lingkungan Melalui Green Supply Management (GrSCM)


Manajemen rantai pasokan hijau (GrSCM) dapat didefinisikan sebagai mengntegrasikan pemikiran lingkungan ke dalam rantai pasokan manajemen, termasuk desain produk, bahan sumber dan seleksi, proses manufaktur, pengiriman produk akhir serta akhir manajemen hidup produk setelah masa manfaatnya.

Pendorong implementasi GrSCM
Menjadi hijau atau etika tidak lagi menjadi pilihan, melainkan suatu keharusan bagi semua peserta dalam manajemen rantai pasukan. Perusahaan-perusahaan yang telah mengadopsi manajemen rantai pasokan hijau yakin bahwa sadar lingkungan adalah “win-win” untuk bisnis dan lingkungan. Beberapa pendorong utama manajemen rantai pasokan hijau adalah:
1.      Permintaan pasar
Permintaan konsumen atas produk ramah lingkungan semakin meningkat. Seperti disebutkan dalam hasil survey, 73% dari pelanggan menganggap penting bahwa perusahaan memiliki catatan lingkungan yang baik, 66% pelanggan merasa bahwa perusahaan harus menawarkan produk hijau dan para pelanggan siap untuk membayar premi sebesar 5% atau lebih untuk produk hijau.
2.      Tekanan peraturan
Kebijakan pemerintah yang baru melarang produk yang terbuat dari bahan-bahan yang merusak lingkungan hidup dan berpolusi. Dalam era globalisasi, telah menjadi suatu kepentingan bagi perusahaan untuk mematuhi peraturan dari Negara yang bersangkutan. Eropa telah membatasi produk yang mengandung zat berbahaya bagi lingkungan seperti cadmium timah, merkuri dan kromium heksavalen (kecuali beberapa produk).
3.      Daya saing ekonomi
Adopsi prinsip hijau dan praktek terbaik seperti daur ulang, mengurangi konsumsi energy dll dapat mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi operasional. Meningkatnya biaya dan meningkatnya permintaan bahan bakar lebih lanjut bertindak seperti stimulus untuk pelaksanaan manajemen rantai pasokan hijau.

Pelaksanaan inisiatif hijau dalam operasi rantai suplai
Sesuai laporan World Economic Forum tahun 2009, aktivitas manusia menghasilkan emisi gas rumah kaca tahunan sekitar 50.000 mega ton CO2, sekitar 2.800 mega tos atau 5.5% merupakan kontribusi logistic dan sector transportasi. Negara maju meminta pengurangan yang signifikan dalam emisi, kebijakan energy di Uni Eropa menyerukan pengurangan 20% emisi gas rumah kaca pada tahun 2020.
Forum ekonomi dunia telah mengidentifikasi 12 item teratas dalam manajemen rantai pasokan yang menyajikan kesempatan yang kreedibel untuk biaya yang efektif dan dapat dicapai de-karbonisasi. Dua belas peluang de-karbonisasi rantai pasokan adalah:
  • Membersihkan kendaraan berteknologi
  • Despeedining rantai pasokan
  • Mengaktifkan sumber karbon rendah
  • Pengoptimalan jaringan
  • Energy bangunan yang efisien
  • Inisiatif desain bangunan
  • Pelatihan komunikas
  • Switch model
  • Daur ulang
  • Nearshoring
  • Mencapai pelanggan secara langsung
  • Mengurangi kemacetan

Berdasarkan potensi pengurangan emisi maksimum dan indeks kelayakan implementasi, ditemukan bahwa 9 pertama dan 12 peluang rantai pasokan de-karbonisasi seperti yang disebutkan diatas dapat dengan mudah diimplementasikan dengan pengurangan yang signifikan dalam emisi.

Tantangan dalam pelaksanaan model green supply chain
Dalam survey terbaru menyatakan bahwa penghambat utama dalam pelaksanaan GrSCM adalah biaya/anggaran.

The relationship of strategic purchasing to supply chain management

Amelia S. Carr, Larry R. Smeltzer
European Journal of Purchasing & Supply Management


Tujuan penelitian
Untuk menguji peran dari pembelian strategis pada manajemen supply chain dan menentukan apakah variable tingkat pembelian strategis adalah predictor komunikasi pemasok, respon pemasok, perubahan dipasar pemasok dan kinerja perusahaan.

Variable         : pembelian strategis, komunikasi pemasok, respon pemasok, perubahan dipasar pemasok dan kinerja perusahaan.

Hipotesis:
H1      : Pembeian strategis secara positif berkaitan dengan respon pemasok untuk membeli kebutuhan.
H2      : Pembelian strategis secara positif berkaitan dengan perubahan dipasar pemasok.
H3      : Pembelian strategis secara positif berhubungan dengan tingkat komunikasi antara perusahaan dalam supply chain.
H4      : Pembelian strategis secara positif  berkaitan dengan kinerja perusahaan.

Metodologi Penelitian
Data   : Sampel dipilih secara random atas anggota National Association of Purchasing Management (NAPM) yang terdiri dari manager pembelian, direktur pembelian, wakil presiden pembelian dan wakil presiden manajemen material.
Tools  : Analisis Regresi

Results
Berdasarkan matrik korelasi, tingkat pembelian strategis berkorelasi signifikan dengan seluruh variable independen, dan juga terdapat korelasi yang signifikan diantara variable independen lain kecuali antara komunikasi pemasok dan perubahan dipasar pemasok.
Berdasarkan pada hasil analisis regresi, menunjukkan bahwa pembelian strategis secara positif berkaitan dengan respon pemasok, perubahan di pasar pemasok, komunikasi pemasok dan kinerja perusahaan.


Diskusi dan implikasi
Penelitian ini menyediakan sejumlah temuan berharga dan implikasi tentang pembelian dan manajemen supply chain:
1.      Hubungan positif antara komunikasi pemasok dan pembelian strategis tampaknya merupakan hubungan terkuat dari hipotesis yang lain. Implikasinya adalah perusahaan yang memiliki pembelian strategis juga memiliki tingkat kerjasama yang lebih tinggi dengan pemasoknya. Implikasi manajerial adalah untuk menekankan negosiasi “win-win” dan pengembangan aliansi.
2.      Respon pemasok dan pembelian strategis secara signifikan terkait. Perusahaan yang memliki pembelian strategis lebih mungkin untuk dapat mempengaruhi respon pemasok tidak hanya pada pemasok tingkat pertama, tetapi pemasok tingkat kedua dan transportasi in-bond. Peningkatan respon dari pemasok dalam supply chain adalah keuntungan tambahan untuk perusahaan pembeli. Tantangan manajerial adalah untuk mengembangkan hubungan dengan pemasok tingkat kedua dan ketiga sebaik dengan pemasok tingkat pertama.
Pembelian strategis melibatkan perencanaan evaluasi, pelaksanaan dan pengendalian pembelian strategis. Hasil menunjukkan bahwa perusahaan yang melakukan perencanaan strategis lebih sukses daripada perusahaan yang tidak memiliki perencataan strategis. Pembelian strategis mensyaratkan bahwa strategi pembelian yang selaras dengan strategi perusahaan dan terus menerus diperbaharui untuk mencocokkan perubahan dalam rencana strategis perusahaan.

An empirical study of the implementation of green supply chain management practices in the electrical and electronic industry and their relation to organizational performances

M. K. Chien; L. H. Shih
National Cheng Kung University, Tainan, Taiwan


Dengan meningkatnya kesadaran perlindungan lingkungan diseluruh dunia, tren penghijauan untuk konservasi sumber daya alam di bumi dan melindungi lingkungan sudah sangat banyak dan menggugah kesadaran perusahaan di Taiwan. Untuk mengurangi dampak lingkungan dari limbah peralatan listrik dan elektronik (WEEE), EU mengimplementasikan WEEE pada agustus 2005. Tujuan utama WEEE adalah untuk mengurangi bahaya lingkungan dengan menggunakan kembali, dan mendaur ulang peralatan listrik dan elektronik, sehingga kapasitas untuk menangani volume limbah peralatan listrik dan elektronik dapat dikurangi. Disisi lain ROHS (Restriction of Hazardous Substances) melarang peralatan listrik dan elektronik mengandung lead, mercury, cadmium, hexavalent chromium, polybrominated biphenyls (PBB) and polybrominated diphenylethers (PBDE). Manajemen rantai pasok hijau juga dikenal dengan  ESCM (environmental supply chain management) or SSCM (sustainable supply chain management), yang merupakan kombinasi dari green purchasing, green manufacturing/materials management, green distribution/marketing dan reverse logistic. Tujuan perusahaan mengimplementasikan GSCM adalah untuk meningkatkan kinerja lingkungan dan keuangan. Namun ruang lingkup praktek GSCM sangat luas dan mencakup praktek lingkungan internal.
Praktek GSCM terdiri dari dua variable yang diamati:
1.      Green manufacturing terdiri dari green design, manufacturing green products, pemulihan dan penggunaan kembali produk yang digunakan, menetapkan standar untuk green products.
2.      Green procurement termasuk menetapkan daftar pemeriksaan zat berbahaya bagi lingkungan, profil bahan baku yang tidak mengandung bahan terlarang, table penilaian pengelolaan lingkungan pemasok, data persetujuan green product dan mekanisme audit untuk green management.

Tujuan penelitian
1.      Membahas factor utama yang mempengaruhi praktek GSCM yangdiadopsi oleh perusahaan listrik dan elektronik di Taiwan.
2.      Membahas praktek GSCM yang diadopsi oleh perusahaan listrik dan elektronik di Taiwan dalam menanggapi green issue.
3.      Membahas hubungan antara praktek GSCM yang diadopsi oleh perusahaan listrik dan elektronik di Taiwan dengan kinerja perusahaan.

Variable         : Praktek GSCM, Peraturan lingkungan, Stakeholder eksternal, Kinerja Lingkungan dan Kinerja keuangan perusahaan.

Hipotesis
H1      : Peraturan lingkungan mempunyai hubungan positif dengan praktek GSCM
H2      : Stakeholder eksternal mempunyai hubungan positif dengan praktek GSCM
H3      : Praktek GSCM mempunyai hubungan positif  dengan kinerja lingkungan
H4      : Praktek GSCM mempunyai hubungan positif  dengan kinerja keuangan perusahaan.

Sampel Penelitian      : Perusahaan listrik dan elektronik di Taiwan yang terdaftar pada Top 1.000 produsen yang disusun oleh majalah Common Wealth.

Tools              : SPSS dan LISREL (Linear Structural Relations).

Results
Temuan ini menunjukkan bahwa tekanan dari peraturan lingkungan, pemasok, konsumen dan stakeholder telah mendorong produsen listrik dan elektronik di Taiwan untuk menerapkan GSCM. Penelitian ini menemukan bahwa peraturan dan stakeholder eksternal memberikan tekanan pada perusahaan untuk menerapkan praktik GSCM. Selain itu ditemukan bahwa pelaksanaan praktek GSCM dapat meningkatkan kinerja lingkungan dan keuangan perusahaan. Penelitian ini menemukan bahwa dalam menghadapi green issue global saat ini, perusahaan bisa mendapatkan keuntungan dari seluruh GSCM dengan bekerja sama dengan pemasok hulu pada teknologi green production dan bertukar green information dengan mereka, serta mengambil suara pelanggan hilir dengan green consumers sebagai masukan/bahan pertimbangan dalam proses produksi.
Untuk memenuhi harapan masyarakat, tindakan pencegahan pencemaran harus diadopsi sebagai strategi manajemen lingkungan. Namun, perusahaan pada umumnya khawatir bahwa menekankan kinerja lingkungan akan menambah biaya operasional mereka, disertai dengan penurunan pangsa pasar dan daya saing. Namun demikian penelitian ini menemukan bahwa penerapan GSCM memiliki efek positif pada kinerja lingkungan dan keuangan yaitu peningkatan kinerja lingkungan akan disertai dengan peningkatan keuntungan perusahaan dan pangsa pasar. Kesimpulan ini secara efektif menghilangkan keraguan dari perusahaan di Taiwan yang belum menerapkan GSCM.